Angin dari Timang

Tag

Hari kamis. Sebenarnya itu hari khusus untuk hadir dan datang ke kampus menemui dosen pembimbing. Tapi saya lebih suka datang untuk ketiga kalinya ke salah satu pantai di desa Purwodadi kecamatan Tepus Gunung Kidul. Saya datang bersama seorang teman yang saya kenal dan 10 orang lainnya yang adalah orang-orang yang belum saya kenal.

Ret ret ret, handphone saya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Di depan kosmu sekarang” satu pesan telah terbaca. Waktunya saya meninggalkan ruang kamar yang mirip gudang tapi rapi dan wangi.

Krek krek, anak kunci membuka gembok pintu pagar depan.  Saya mengintip tapi tak ada tanda seseorang berdiri menunggu. Pikir saya, mungkin dia salah rumah atau dimana dia menunggu. Setelah pintu pagar berhasil dibuka, saya terkejut melihat sosok manusia bergaya retro nongkrong di atas motor tua lengkap dengan helm tidak berstandar “SNI” tanpa kaca plus kacamata warna kuning bening. Aduh, tanggung amat ini orang motornya, kenapa tidak sekalian motor pitung saja yang dibawa.

“Kita berangkat dengan motor seadanya” tanpa dipersilahkan naik saya sudah naik duluan. Happy begining sudah di mulai. Untung saja motor tua yang masih bisa ngebut yang dia bawa, coba kalau motor gede saya pasti akan membatalkan untuk pergi.

Setelah beberapa jam menunggu sepuluh teman-teman baru akhirnya kami berangkat. Ini kali pertama ke Gunung Kidul dengan motor berumur. Asoi geboi. Tak lebih dari 2 jam kami sampai di tempat tujuan, rumah pak dukuh setempat untuk sowan dan menitip motor. Untuk sampai ke pantai Timang, lebih nyaman lewat “jurug” semacam hutan kecil buatan manusia. Badan terlindungi dari sengatan panas matahari karena berbagai tanaman seperti pohon jati berjejer hampir di sepanjang jalan.

Berjalan kaki selama satu jam rasanya hanya beberapa menit saja.

Berdasarkan obrolan ringan saat sowan di rumah pak dukuh, jalan menuju Timang akan dibangun menjadi lebih baik dari yang ada sekarang. Batu-batu berukuran sedang dan pasir hitam sudah parkir beberapa hari yang lalu di pinggiran jalan menuju Timang.

“Jalan akan segera di bangun dalam tahun ini, saya yakin tanaman yang ada di pinggir jalan ini beberapa tahun lagi pasti sudah tumbang” ujar saya sambil membenahi selendang yang saya kenakan untuk menutupi wajah agar tidak mengalami pigmentasi. Meskipun saya suka outdoor activity tapi kenyamanan badan tetap saya perhitungkan baik-baik.

“Ya itu sebenarnya dilema, jika jalan tidak dibangun penduduk sekitar akan tetap seperti ini. Tapi jika jalan dibangun kondisi alami dan segar seperti ini akan perlahan-lahan musnah, seharusnya pengembangan wisata pantai ini memakai sistem ekowisata” komentar teman baru yang ternyata pujakesuma juga.

“Haha itu maunya kita. Saya bangga dan selalu ingin datang ke Bali. Meskipun baru pertama kali berkunjung kesana. Tanah yang subur tetap dimanfaatkan untuk tanam-menanam menghasilkan produk lokal yang berkualitas dan lahan yang kurang subur di jadikan hunian serta tempat berdagang” sembari membayangkan kesejukan udara di desa Munduk, Bali Utara.

Tak disadari pantai Timang benar-benar di depan kami. Dua belas pemuda-pemudi berpencar mencari dan datang ke sudut-sudut area yang menarik mata dan hati mereka. Sebuah bangunan yang tak beratap itu masih tegar berdiri di bukit kecil. Mereka berlari membawa kamera, makanan ringan dan air minum menuju area gondola yang bisa membawa tubuh kita menyebrang ke pulau karang lainnya. Menurut cerita pak dukuh biaya yang direlakan untuk bisa merasakan kekejaman gondola dan air laut sebesar 800 ribu untuk 4 orang, ada juga jasa pemuda sekitar yang menawarkan 400 ribu untuk 1 orang dengan mendapat fasilitas antar-jemput.

Mata saya lebih tertarik menonton ombak pantai Timang yang sedang pasang di bawah pohon cemara. Menggelar selendang seadanya, mengunyah cemilan, berbaring dan berbantalkan ransel. Memainkan zoom kamera untuk menyaksikan bukit karang kecil yang berada di sepanjang garis pantai ke arah timur. Meskipun sempat merinding karena mendengar long-longan anjing di seberang sana. Rumput-rumput liar sedang berbunga dan terbuai oleh tiupan angin. Bukan hanya rumput-rumput yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, mulut sayapun mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri setelah disapa angin laut selatan.

Semoga pohon-pohon cemara itu masih diberikan kesempatan untuk tumbuh tidak seperti tanaman menjalar Drini yang ada di pantai Nguyahan sana. Tak lagi tersisa dan berbunga ungu yang kalau mekar seperti terompet.

“Ayo turun ke pantai kemudian kita pulang” ajakan mbak Yuli yang bergegas menyandang ransel hitamnya.

Sedikit terburu-buru memasukkan ini dan itu ke dalam ransel.

Tumbuhan pandan tak lagi rimbun dan teduh seperti setahun yang lalu. Hilang dan terlihat seperti ditebang. Sampah kiriman bertaburan di pasir yang warna-warni. Semuanya memang akan terlihat berbeda ketika waktu terus berjalan. Hanya orang yang berhati mulia yang akan tetap menjaga untuk tetap sama seperti apa yang tercipta.

Pulang.

Langit penuh konstelasi bintang. Cerah dan dingin.

“Itu bintang terang banget” badan saya sedikit meliuk saat tikungan terlewati.

“Haha,mungkin venus” atau ursa mayor pikirku dalam hati.

Bintang yang paling terang itu ada di sebelah barat.

 

Aku bahagia

Tag

 

“Aku bahagia hari ini. Bisa memandangi air sungai yang bewarna hijau muda dari bukit batu purba bersama tiupan angin dari segala arah yang mendorong otot wajahku mencipta senyuman-senyuman ringan. Bahkan aku ingin sekali bisa menjadi air sungai yang berwarna hijau muda itu, tak membawa lumpur yang merusak warna air sungai. Aku bahagia hari ini karena bertemu bapakku yang jauh di pulau sana. Pohon klereside/gamal,  aku mengenal nama pohon yang berguna bagi tanah dan tanaman itu dari beliau. Aku selalu ingat nama pohon itu dan akan selalu ingat bahwa beliau adalah lelaki nomor satu yang aku kenal”.

Gardu pandang kebun buah Mangunan

 

Manisnya Es dawet ayu Balai Yasa

Tag

Hari ini seorang akan kembali pulang ke rumahnya di Kebumen. Kemarin kami sudah dua kali bertemu, dia mengunjungiku dan aku mengunjunginya. Baru kali ini ada seseorang yang datang membawa cemilan yang baru pertama kali saya makan dan rasakan. Cemilan itu berhasil menemani saya hingga pukul 4 pagi menonton film yang sedang saya gandrungi.

Bangun telat dan rasanya masih ingin tidur, kembali bermimpi.

Tak ingin berkata banyak saat ia pergi. Sebuah buku yang terselip amplop putih di dalamnya.

“Menunggu siapa mbak?” tanya seorang ibu yang lewat didepan saya.

“Teman bu” jawab saya dengan mengawasi hape yang tak kunjung ada pesan balasan darinya.

Ibu itu menanyai siapa nama teman yang sedang saya tunggu. Beliau juga memberi tahu bahwa baru saja dia pulang bersama keluarganya. Saya sudah merelakan waktu untuk tidak tidur dan kembali bermimpi. Buku yang terbungkus rapi beserta amplop putih masih menggantung di sepeda motor.

Saya putar balik menuju Balai Yasa. Pohon yang berusia lebih tua dari saya begitu menggerakkan saya untuk singgah di bawahnya. Bersama motor, dompet, hape dan kamera kesayangan kami duduk bersama di kursi yang hampir rapuh. Pohon besar itu semakin tua semakin kuat dan meneduhkan bagi siapa saja yang mau singgah padanya. Sejuk. Angin terasa begitu ramai disekeliling saya. Mengoyak helai per helai rambut saya dan kemudian menyusup ke pori-pori. Dingin. Es dawet yang pas, tidak terlalu manis, tidak terlalu kental santannya, tidak terlalu dingin. Pas. Menyedot cendol dan campuran santan, gula yang terkombinasi menjadi satu. Tiba-tiba sebuah pesawat dari arah barat lewat di hadapan. Belum juga muncul sms balasan darinya, apa dia lupa untuk mengabari saya jika waktunya untuk pulang tiba. Angin-angin itu terus saja datang dan menyegarkan.

Setelah puas duduk dan menghabiskan segelas es dawet seharga 2500 ribu, pulang dan menunggu apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba saat perjalanan pulang hape saya bergetar, ada yang menelpon. Baru pertama kali ini saya mengendarai motor sambil mengangkat telpon dari seseorang.

“Aku belum pulang masih di Jogja, kami mampir ke sebuah tempat dulu. Gimana, atau kita bertemu disini saja nanti aku kirim sms saja” saya mendengar suara itu dengan sedikit sedih dan saya bisa membayangkan ekspresi wajahnya.

“Ya, nanti sms saja jika hendak pulang” ujar saya sembari menghidupkan lampu sen motor untuk berbelok menuju pasar Ngasem.

Awan abu-abu begitu cepat bergelantungan di langit yang tadinya biru cerah.

“Aku sedang perjalanan kembali? kita bertemukah?” sms yang muncul di layar hape.

“Kita bertemu saja, aku tunggu di depan BI” balasan yang terkirim.

“Sepertinya tidak sempat berhenti, mendung juga” ia membalas.

Mendung. Sudah mendung.

Ah Tuhan, hari ini Kau begitu romantis. Semoga semua baik-baik saja. Esok saya akan mengirimkan buku itu supaya kau membaca tulisan di dalam amplop putih itu.

 

Today

Ketika pagi sudah dibuka untuk diisi cerita betapa terik sinar matahari

Kabut tak lagi terlihat oleh mata hanya sisa lelehan air yang terasa oleh jari

Ya sudahlah, nikmati saja apa yang ada di depanmu, tak usah memikirkannya sampai matahari terbenam

Hari ini cukup untuk hari ini

 

Berandai

Tag

pagi yang kautunggu sudah memudar
kidung siang mulai menggulirkan senandung langit biru
tenagaku kini tak lagi mekar dan kekar
karena rindu menyeretku sesukanya
jarimu tak lagi kudengar menyentuh dawai gitar di sudut kamar itu
hanya angin yang selalu terdengar menggesek dawai-dawai itu
musim hujan hampir habis petir akan enggan datang saat malam
andai mendung dapat hadir sesuka panggilanku
andai hujan adalah sebuah musim harian
andai bumi tak berjarak kilometer
andai aku tak jatuh hati padamu
aku sudah pasti hilang dari kotamu

Ada damai “700 meter” di Danau Tamblingan

Tag

Di dalam kamar tua, mengapa saya menyebut begitu karena bangunan kamar itu merupakan rumah asli penduduk desa Munduk, Bali utara. Yah, saya bertanya kepada teman yang mengajak saya untuk bermain-main ke Bali dengan uang saku hasil penjualan sepeda saya yang sebulan lalu mengalami kecelakaan, keadaannya rusak berat. Untungnya masih laku dan uang 175 ribu menambah uang saku. Teman saya mulai membuka peta wisata provinsi Bali. Dia mulai bercerita agenda kemana kita akan menghabiskan waktu 6 hari di Bali.

“Kita akan berjalan kaki melewati tiga danau itu” ucapnya dengan menunjukkan dimana letak ketiga danau itu. Saya tetap di posisi duduk diatas selimut karena desa Munduk begitu dingin, hingga tumbuhan seperti kopi, cengkeh mendominasi kawasan desa Munduk.

“Oke tidak masalah buat saya, yang penting gratis haha” komentar menyebalkan mungkin baginya. Maklum tak lebih dari 300ribu uang saku yang ada di dalam di dompet.

Pagi tak terasa sudah hadir dan kebiasaan “bangkong” terbawa sampai Bali. Jangan sekali-kali membawa kebiasaan buruk ketika berpergian di tempat baru.

“Kalau mau keliling Bali, bangun jam 5 beres-beres, jam 5.30 sudah mulai jalan kaki. Di Munduk kalau sore pasti hujan jadi kita beraksi ketika pagi hingga siang hari, sore dan malam waktunya untuk kita istirahat dan keesokan harinya dilanjut lagi” teguran dari teman seperjalanan ke Bali. Dalam hati saya cuma tertawa, karena selama ini saya berpergian ke tempat yang sepi penduduk dan hanya ada batu, pepohonan, pasir serta air laut saja.

Pukul 8.00 kami berdua diantar ke perbatasan desa Munduk naik mobil. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak melengos ke kanan kiri jalan, muka saya ditampar dengan hamparan perkebunan cengkeh yang begitu subur dan hijau. Sayang buah cengkeh belum terlihat hanya beberapa batang yang saya lihat sudah mulai berbuah.

Lima belas menit mobil seorang teman sampai di perbatasan desa Munduk. Danau Tamblingan begitu luas dan masih terjaga ekosistemnya. Setelah lima belas menit berjalan kaki, saya begitu kaget dan sempat hampir lari. Seekor monyet bergelantungan di dahan pohon yang berdiameter lebih dari 50 cm. Monyet itu sempat memandangi aksi kami, kemudian ia pergi menyusul teman monyet lainnya di dahan pohon lain  dan saya tidak bisa melihatnya lagi.

Perjalanan masih jauh lebih dari dua jam lagi untuk sampai di pertigaan besar menunggu mobil jurusan Denpasar. Kami berjalan lagi kira-kira setengah jam kemudian kami menjumpai sebuah pura Ulun Danu Tamblingan. Ada beberapa warga yang sedang sembahyang di pura dengan membawa sajen tertentu. Di pura ini saya melihat sampah organik dari sajen yang dibawa warga, harum bunga sajen masih tercium hidung saya. Teman saya terlihat lapar sekali dan kebetulan ada penjual bakso. Sebelum memesan semangkok bakso, penjual bakso memberi tahu bahwa ini bakso babi. Teman saya gagal mengisi perut karena ia tidak makan daging babi.

Kami beristirahat sebentar, sambil mengirup oksigen yang begitu melimpah di sekitar kami berdiri. Lima menit kemudian ada seorang bapak membawa peralatan memancing. “Bisa turun ke bawah pak? berapa jaraknya” tanya teman saya.

“Bisa mbak, 700 meter sampai di danau” jawab lelaki yang sepertinya sudah sering memancing di danau Tamblingan.

Kami berdua sepakat turun ke danau. Memang ada anak tangga yang sangat membantu perjalanan sejauh 700 meter itu. Namun tetap berhati-hati ketika melangkahkan kaki kami diatas anak tangga yang lembab dan ditumbuhi lumut. Sedikit saja lengah, kami bisa jatuh berguling-buling ke bawah. Udara di dalam hutan begitu segar, hijau dan terjaga. Suara kendaraan yang ramai tidak lagi terdengar di telinga karena tergantikan dengan kicauan burung-burung yang menentramkan hati.

Wow. Mata saya terbelalak. Dihadapan saya ada pura yang terlihat sudah tua umurnya bahkan di bagian pura ada tertulis bahwa pura sempat mengalami pemugaran. Bali memang kota seribu pura, dimana-mana pasti bertemu pura. Setelah menikmati keindahan ukiran pada pura kami melanjutkan ke tujuan awal kami. Bertemu air danau Tamblingan. Berjarak 100 meter dari pura, air danau yang berwarna hijau dari kejauhan di depan kami. Segar dan mendamaikan pikiran. Meskipun keringat membanjiri punggung dan kening saya, ada kepuasan yang tercapai. Sebelumnya kami hanya berencana menyusuri tepian jalan di pinggir danau saja, tapi kedamaian danau Tamblingan menggiring kami untuk menikmatinya. Gelombang kecil air danau menabrak tebing rendah sisi danau yang menciptakan bunyian lembut berkolaborasi dengan oksigen yang diciptakan pepohonan tinggi melengkapi perjalanan pertama saya ke Bali.

Benar apa yang dikatakan teman saya, pergilah ke Bali di daerah pedesaannya jangan di kota. Sajian secangkir teh hangat dan bincang-bincang tentang kehidupan di Bali pasti menjadi bonus perjalananmu.

Jalan kaki.

Perjalanan menuju danau Buyan ditemani cuaca yang mendung dan hujan. Sialnya payung tak ada apalagi jas hujan. Rintik air mulai banyak dan sayapun lari mencari tempat berteduh dan berlindung di atap seng tempat jualan bensin. Tiba-tiba ada pemiliknya datang berbicara bahasa Bali dengan nada marah dan mengusir saya serta teman saya. Andai saya bisa bahasa Bali, saya pasti akan minta izin untuk tetap berlindung di tempat jualan bensin.

 

 

Mentari di antara pepohonan

 

 

Tali jemuran, melintang dan melingkar-lingkar di badan bilah kayu bekas. Saat dibebaskan dari toko, aku yakin tali itu masih berbau sintesis dan berwarna cerah tepatnya warna-warni. Pembeli tali pergi ke lantai dua yang beratapkan langit biru. Memfungsikan tali yang dibelinya tadi sebagai tali jemuran. Musim sinar matahari dan musim air langit memudarkan kekuatan dan keindahan tali berwarna-warni itu. Entah berapa musim yang sudah terlewati, hingga suatu hari pembeli tali itu pergi ke lantai dua memandangi tali yang telah memudar warnanya dan memutuskan untuk membebaskan bilah kayu itu dari lingkaran tali jemuran. Aku bebas, teriak si tali jemuran. Pembeli tali itu pergi ke tempat pembakaran sampah, menyalakan api dan membakar tali jemuran itu.

Kreni,Satu dari ribuan Lauk pauk Nusantara

Tag

Liburan telah tiba.

Krekk. Pintu belakang tertutup rapat, namun gesekan sandal jepit milik ibu masih mampu terdengar telingaku. Hingga suara gesekan itu tidak terdengar lagi, saya mengerti dan hafal kemana ibu pergi ke suatu tempat, ke dapur mbah Nami. Jarak dapur kami hanya dua langkah kaki saja.  Sayapun bergegas mengikuti jejak ibu. Dari dapur rumah, saya mulai mendengar cerita dari para ibu tentang hari mereka yang lalu. Tentang anak putri mereka yang telah pergi merantau bersama suami. Ada yang bertambah makmur dan putri mereka menjadi berbadan besar  alias gemuk.  Memiliki seorang cucu putri yang lucu dan lincah berbicara, namun hanya 3 hari saja tinggal di rumah. Wajah seorang ibu menjadi sedih dan menahan rindu yang telah terkumpul selama setahun lalu.

“Sini bantuin mbah Nami masak” mbah Nami yang kini telah kehilangan putrinya, seorang pria satu desa menikahi putrinya. Dan dalam hitungan minggu anak putrinya hendak pindah ke rumah barunya, meski berjarak lima rumah tetapi mbah Nami, tetaplah seorang ibu yang ingin selalu disisi putrinya.

“Hehe, oke mbah” saya melangkah mendekati mbah Ngadirah yang sedang sibuk menghaluskan bumbu untuk membuat kreni.

“ Itu seledrinya dipotongin kecil-kecil, Ka” pinta mbah Nami.

Di ruang dapur yang setengah terbuka moment seperti ini yang selalu membuat saya ingin diam dan tinggal bersama ibu.

Ibu saya mendapat jatah untuk menggoreng kentang dan memasak daging bebek. Dade Sawinah bersiap-siap menyiapkan tulang-tulang daging ayam dan bebek, seperti ceker, bagian kepala, dada dihancurkan hingga tulang menjadi lunak. Dicuci hingga bersih dan siap diaduk bersama bumbu-bumbu.

“Kelapanya belum diparut, sana Ka sama mbak Yayuk ke pasar ngiling kelapa tempat mas Ipul” perintah mbah Nami.

“Kene Mi tak parute wae” mbah Ngadirah menawarkan bantuan.

“Digiling wae ben cepet, satu kelapa cuma lima ratus kok” sahut mbah Nami.

Teknologi kini menjadi alat pemudah dan penyingkat waktu. Saya ingat dulu waktu masih kecil, banyak ibu-ibu bergerombol mengobrol hingga tertawa terkadang berekspresi serius dan ketawa lagi sambil memegang parut masing-masing ketika rewang di acara pernikahan. Aktivitas memarut kelapa untuk bahan rendang, serundeng, nagasari dll. Kini mungkin saya tidak akan melihat pemandangan seperti itu lagi, sejak adanya mesin penggiling. Saya mau-mau saja disuruh apa saja tapi untuk ke pasar sedikit malu, orang-orang akan melihat langkahku, karena telah lama tidak berjumpa. Saya mulai beralasan tapi tetap saja berangkat asal ada temannya.

Lima kelapa tidak muda dan tidak tua, gembotok, ya kelapa yang gembotok yang cocok untuk membuat bahan campuran makanan kreni. Makanan kreni sebenarnya makanan daerah Bucu, Tlumpang dan sekitarnya, desa kecil di kecamatan Kembang kabupaten Jepara  Jawa Tengah. Kalau saya main ke tempat bulik di Tlumpang pasti disuguhi kreni sebagai lauk-pauknya, asin-asin gurih. Meskipun sudah berpuluh tahun meninggalkan pulau Jawa, kami masih cinta makanan di tanah leluhur.

            Cukup mudah membuat kreni.

Selang beberapa menit saya sudah sampai di dapur membawa parutan kelapa yang baunya sedap, aroma santan tercium. Bumbu kreni yang dihaluskan mbah Ngadirah berupa bawang putih, bawang merah, cabai merah dan hijau, penyedap rasa, garam, sudah siap dicampurkan dengan tetelan tulang serta kelapa. Diberi beberapa lembar daun jeruk purut agar berbau harum. Bahan dan bumbu diaduk, diulet hingga tercampur semuanya, diberi sedikit tepung terigu. Diicip dulu untuk memastikan apakah bumbu dan rasanya sudah pas dan enak. Sambil menunggu membuat gelindingan alias bola kreni, menyiapkan dandang berisi air untuk mematangkan kreni sebelum digoreng. Bisa dibuat bola, oval, kotak, sesuka hati. Setelah matang kemudian digoreng, dilumuri kuning telur juga boleh. Agar lebih gurih.

Dimakan selagi hangat begitu nikmat. Tekstur parutan kelapa dan tetelan tulang membuat kreni lebih gurih. Cocok untuk lauk pauk. Saya lebih suka “menggado” alias ngemil kreni dibandingkan dimakan sebagai lauk pauk.

“Tutik, iki piye, kowe wae sing ngempukke daging bebek e, aku wedi e” pinta mbah Nami pada ibuku untuk mengempukkan daging bebek menggunakan panci pelunak daging. Dalam hati saya tertawa, ada-ada saja ini mbah Nami punya alat canggih tapi tidak bisa memakainya. Kemudian tawa membahana di ruang dapur itu karena mereka mengejek saya belum punya pacar.Argggh.

Hampir selesai. Tiba-tiba mbah Nami menghampiri saya dengan muka agak sedih dan berkata, kalau cari suami yang jauh dari rumah saja Ka.

Diaduk dengan bumbu

 

kreni dibentuk bola dan siap dikukus kurang lebih 5-10 menit

Ketentraman jiwa, Candi Cetho

Tag

Ayo ke candi Cetho! Ajakan dari seorang teman, tanpa berpikir panjang pesan singkat mewakili bahwa saya mau ikut ke candi Cetho. Seperti biasa perjalanan ini saya bersama mas Dedy, mbak Rina, mas Cakil, mas Sangga dan mas Ulla. Kami menuju candi Cetho yang ada di desa Cetho  kabupaten Karanganyar. Perjalanan tidak terlalu jauh kami berangkat dari jalan solo km 10 pukul 11.00 dan sampai di sana pukul 13.00, terasa sedikit lama karena kami merasa lapar dan mampir di warung mbak Ningsih sebelah kanan jalan. Ada satu menu yang ditawarkan menggiurkan lidah saya yaitu trancam. Sudah lama tidak merasakan trancam. Satu porsi trancam hanya dibandrol 4000 rupiah saja plus pemandangan bukit-bukit yang penuh kabut di belakang gubuk kecil tempat kami menyantap hidangan.

        Setelah merasakan kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sampai di pertigaan kami belok ke kiri ke arah candi Cetho, bila belok ke kanan menuju arah kawasan Tawangmanggu. Kondisi jalan yang kami lewati dalam kondisi baik namun setelah melewati dua pos retribusi yang hanya berjarak 7km lagi sampai, ketakutan sedikit mulai hadir. Sisi kiri  sepanjang jalan adalah jurang kebun teh. Kabut semakin pekat dan mobil mulai berjalan pelan dan lebih berhati-hati. Lampu menjadi kacamata mobil. Jarak pandang siang itu hanya satu meter. Pekat oleh kabut.

Candi Cetho 3 km. Papan penunjuk jalan yang berada di dekat persimpangan jalan itu mampu menghilangkan rasa takut saya terhadap jurang kebun teh.

Kabut enggan untuk meninggi ke puncak gunung Lawu yang ada di sisi barat candi. Dingin dan penasaran. Di pos parkir para penjaga terlihat meletakkan kedua tangan mereka di atas tunggu yang berisi arang yang sudah menjadi bara, sedikit terasa hangat. Itulah akal-akalan mereka untuk mengurangi rasa dingin. Akan tetapi, bau ‘sangit’ akan tercium di kedua tangan setelah beria-ria di atas bara.

                Untuk menuju kompleks candi kami harus berjalan kaki. Lima menit saja.

Melalui tiga kali anak tangga yang berjumlah 24 dan saya lupa. Kali ini cuaca dipenuhi kabut dan rintik-rintik air dari pengembunan uap air di dahan-dahan sekitar candi. Aroma hening begitu terasa. Kali ini sepi pengunjung hanya ada empat laki-laki yang datang berkunjung dan kami. Setelah menaiki undak-undakan di sebelah kanan terdapat papan informasi tentang candi Cetho.

Berlanjut masuk menuju candi utama. Ada beberapa foto di bawah ini mengenai sudut-sudut kompleks candi. Biarlah gambar yang berbicara.

 

 

 

Ketenangan hati. Hanya suara angin yang menggoyakkan dahan-dahan pepohonan.

Saya begitu senang ketika melihat rumpunan lumut di belakang candi utama. Tetesan air terlihat begitu jernih duduk dipucuk kotak spora lumut. Selain itu, kepala saya sudah basah terkena tetesan air tawar dari ujung dedaunan. Gutasi. Setelah puas, sebenarnya belum puas karena hanya sedikit informasi yang saya dapat tentang candi ini dari beberapa pengunjung yang datang untuk meditasi. Kami melanjutkan ke kompleks berdirinya dewi Sarasvati, melalui pintu samping candi. Cukup 10 menit untuk dapat menyaksikan keindahan dewi Sarasvati. Di sebelah kanan patung dewi Sarasvati terdapat satu bangunan pura kecil yang atapnya sudah penuh dengan lumut dan tumbuhan paku-pakuan. Berjarak beberapa meter mengalir sendang Sari. Bunga mawar dan dupa sesajen menambah rasa tempat ini begitu sakral. Air sendang begitu segar dan dingin. Berhubung hari mulai gelap kamipun kembali ke tempat parkir dan menuju Ndoro Donker.

Sempat ikut merasakan hangatnya bara api yang digunakan penjaga parkir sebagai penghangat beberapa menit. Sedikit berbincang-bincang. Berdasarkan perbincangan dengan dua penjaga parkir, “datanglah saat tanggal muda kalian akan bisa melihat dewi Sarasvati begitu cantik dan warna keemasan yang terhias di tubuhnya terlihat lebih cerah. Patung dewi Sarasvati datang dari Bali, sudah 12 tahun yang lalu diangkut dengan truk. Terbungkus rapi. Saat patung ditanamkan di sini hujan turun begitu derasnya, cuaca buruk. Entah mengapa hujan tidak berhenti-henti, menggerikan saat itu” dua lelaki yang berpakaian hitam-hitam itu menuturkan.

Rasa penasaran saya bukannya terjawab justru semakin bertambah. Mengenal lebih hening  candi Cetho dan patung dewi Sarasvati.

Ndoro Donker.

Wajib mampir dan merasakan teh serta menu makanannya, khususnya kari ayamnya. Sungguh lezat  dan  nikmat di santap di halaman samping/depan kedai sambil menghirup oksigen dari daun-daun teh. Segar dan damai terasa.

 Ket gambar:

Gambar  7:::: halaman samping Ndoro Donker— Gambar 6:::: patung dewi Sarasvati di tengah kabut— Gambar 5:::: candi utama yang ditutup— Gambar 4:::: Lumut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.