Tag
Hari kamis. Sebenarnya itu hari khusus untuk hadir dan datang ke kampus menemui dosen pembimbing. Tapi saya lebih suka datang untuk ketiga kalinya ke salah satu pantai di desa Purwodadi kecamatan Tepus Gunung Kidul. Saya datang bersama seorang teman yang saya kenal dan 10 orang lainnya yang adalah orang-orang yang belum saya kenal.
Ret ret ret, handphone saya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“Di depan kosmu sekarang” satu pesan telah terbaca. Waktunya saya meninggalkan ruang kamar yang mirip gudang tapi rapi dan wangi.
Krek krek, anak kunci membuka gembok pintu pagar depan. Saya mengintip tapi tak ada tanda seseorang berdiri menunggu. Pikir saya, mungkin dia salah rumah atau dimana dia menunggu. Setelah pintu pagar berhasil dibuka, saya terkejut melihat sosok manusia bergaya retro nongkrong di atas motor tua lengkap dengan helm tidak berstandar “SNI” tanpa kaca plus kacamata warna kuning bening. Aduh, tanggung amat ini orang motornya, kenapa tidak sekalian motor pitung saja yang dibawa.
“Kita berangkat dengan motor seadanya” tanpa dipersilahkan naik saya sudah naik duluan. Happy begining sudah di mulai. Untung saja motor tua yang masih bisa ngebut yang dia bawa, coba kalau motor gede saya pasti akan membatalkan untuk pergi.
Setelah beberapa jam menunggu sepuluh teman-teman baru akhirnya kami berangkat. Ini kali pertama ke Gunung Kidul dengan motor berumur. Asoi geboi. Tak lebih dari 2 jam kami sampai di tempat tujuan, rumah pak dukuh setempat untuk sowan dan menitip motor. Untuk sampai ke pantai Timang, lebih nyaman lewat “jurug” semacam hutan kecil buatan manusia. Badan terlindungi dari sengatan panas matahari karena berbagai tanaman seperti pohon jati berjejer hampir di sepanjang jalan.
Berjalan kaki selama satu jam rasanya hanya beberapa menit saja.
Berdasarkan obrolan ringan saat sowan di rumah pak dukuh, jalan menuju Timang akan dibangun menjadi lebih baik dari yang ada sekarang. Batu-batu berukuran sedang dan pasir hitam sudah parkir beberapa hari yang lalu di pinggiran jalan menuju Timang.
“Jalan akan segera di bangun dalam tahun ini, saya yakin tanaman yang ada di pinggir jalan ini beberapa tahun lagi pasti sudah tumbang” ujar saya sambil membenahi selendang yang saya kenakan untuk menutupi wajah agar tidak mengalami pigmentasi. Meskipun saya suka outdoor activity tapi kenyamanan badan tetap saya perhitungkan baik-baik.
“Ya itu sebenarnya dilema, jika jalan tidak dibangun penduduk sekitar akan tetap seperti ini. Tapi jika jalan dibangun kondisi alami dan segar seperti ini akan perlahan-lahan musnah, seharusnya pengembangan wisata pantai ini memakai sistem ekowisata” komentar teman baru yang ternyata pujakesuma juga.
“Haha itu maunya kita. Saya bangga dan selalu ingin datang ke Bali. Meskipun baru pertama kali berkunjung kesana. Tanah yang subur tetap dimanfaatkan untuk tanam-menanam menghasilkan produk lokal yang berkualitas dan lahan yang kurang subur di jadikan hunian serta tempat berdagang” sembari membayangkan kesejukan udara di desa Munduk, Bali Utara.
Tak disadari pantai Timang benar-benar di depan kami. Dua belas pemuda-pemudi berpencar mencari dan datang ke sudut-sudut area yang menarik mata dan hati mereka. Sebuah bangunan yang tak beratap itu masih tegar berdiri di bukit kecil. Mereka berlari membawa kamera, makanan ringan dan air minum menuju area gondola yang bisa membawa tubuh kita menyebrang ke pulau karang lainnya. Menurut cerita pak dukuh biaya yang direlakan untuk bisa merasakan kekejaman gondola dan air laut sebesar 800 ribu untuk 4 orang, ada juga jasa pemuda sekitar yang menawarkan 400 ribu untuk 1 orang dengan mendapat fasilitas antar-jemput.
Mata saya lebih tertarik menonton ombak pantai Timang yang sedang pasang di bawah pohon cemara. Menggelar selendang seadanya, mengunyah cemilan, berbaring dan berbantalkan ransel. Memainkan zoom kamera untuk menyaksikan bukit karang kecil yang berada di sepanjang garis pantai ke arah timur. Meskipun sempat merinding karena mendengar long-longan anjing di seberang sana. Rumput-rumput liar sedang berbunga dan terbuai oleh tiupan angin. Bukan hanya rumput-rumput yang bergoyang ke kanan dan ke kiri, mulut sayapun mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri setelah disapa angin laut selatan.
Semoga pohon-pohon cemara itu masih diberikan kesempatan untuk tumbuh tidak seperti tanaman menjalar Drini yang ada di pantai Nguyahan sana. Tak lagi tersisa dan berbunga ungu yang kalau mekar seperti terompet.
“Ayo turun ke pantai kemudian kita pulang” ajakan mbak Yuli yang bergegas menyandang ransel hitamnya.
Sedikit terburu-buru memasukkan ini dan itu ke dalam ransel.
Tumbuhan pandan tak lagi rimbun dan teduh seperti setahun yang lalu. Hilang dan terlihat seperti ditebang. Sampah kiriman bertaburan di pasir yang warna-warni. Semuanya memang akan terlihat berbeda ketika waktu terus berjalan. Hanya orang yang berhati mulia yang akan tetap menjaga untuk tetap sama seperti apa yang tercipta.
Pulang.
Langit penuh konstelasi bintang. Cerah dan dingin.
“Itu bintang terang banget” badan saya sedikit meliuk saat tikungan terlewati.
“Haha,mungkin venus” atau ursa mayor pikirku dalam hati.
Bintang yang paling terang itu ada di sebelah barat.


















